“NEW LIFE! Back Young Again. BECOME A CHILD ANYMORE! To Be A Junior High School Kid. At October 20th 2011 - Zka DT Siahaan, “ROCK STAR!”

Spending the whole days with my fans, reporter, media, friends, singing, performing, HANG OUT, Chit-Chat, party all night long, play my blues, my piano dan working at the STUDIO make my New Hits Album.
Posted in Best Seller Author | |

fire-works

“Pergilah,” sela gadis itu.

Beast berdiri, “Aku cuma ingin mengetahui ceritamu.”

“Sudah, bukan?”

“Jika terjadi sesuatu dan kau harus bertindak untuk membela diri, kau bisa memperkuat pembelaanmu jika melaporkan fakta-faktanya pada polisi. Seharusnya kau juga tahu jika tanda-tanda melarikan diri bisa dianggap sebagai pengakuan diri bersalah.”

Gadis itu menjawab dengan kasar, “Mungkin banyak hal yang ada dalam benakmu, Mr. Beast. Begitu juga aku. Aku tidak akan menahanmu lebih lama lagi dan begitupun sebaliknya.”

Gadis itu berdiri dan berjalan ke pintu. Ke dua pria itu perlahan menuruni tangga. “Suruh anak buahmu untuk tetap mengawasinya, Paul?” Kata Beast.

“Aku punya dugaan ia berniat kabur.”

  • Zka DT Siahaan
  • “WRITER and BLOG DESIGNER”
Posted in Blushing....? | |

Sydney, 25 Juni 2011.

    In The Palmese Sexton Hotel @ 05:30 Am.

“Goooood Moooorning, Ziiiiiiii?”
“Ngkh…kh…kh…kh….., good morning…., yeah…hhh..hhhhh…..hhhhh”
Hi…., fellas? What’s up?
Gue baru aja bangun tidur, masih ngantuk banget sih sebenarnya, cuma gimana lagi gue harus bangun.
Manager gue udah teriak-teriak nyuruh gue bangun, kalo nggak bangun juga ntar gue bakalan disiram pake air, gitu katanya.
Emangnya gue tanaman apa, pake acara disiram segala.
Mata gue masih berat banget nih, badan juga masih lemas.
Masih kepengen ngelanjutin tidur.
Semalam gue tidur jam brapa ya?
Lupa gue, seinget gue sih gue nggak tidur pagi. Ada kali gue tidur tujuh jam, apa nggak sampe tujuh jam juga?
Hahhhh….hhh…., LUPA GUE. Tapi yang pasti GUE MASIH NGANTUK, titik.
” Ziiiiiikkkeiiiiii, bangun!”
Ooopss, manager gue udah teriak-teriak lagi tuh. Kayaknya gue harus cepat-cepat ke kamar mandi deh, klo nggak Manager gue benar-benar bakalan nyiram gue pake air klo gue nggak langsung mandi.
Yah udah deh gue mandi dulu.
Sekarang khan masih jam 06.00, masa jam segini gue udah diteriakin cuma buat mandi doang.
Hm hm hm…, “lupa”, gue hari ini khan ada INTERVIEW sama PEOPLE MAGAZINE.
Kayaknya sih mereka udah nelephone manager gue tadi, mungkin ngasih tau kali klo mereka udah ada di STUDIO, kantor people magazine.
“Nanya kapan gue ke sana.”
Nyuruh gue supaya gue cepat-cepat datang. Emangnya gue mbaknya apa disuruh-suruh? Nggak tau apa klo gue NGE-TOP. Bete!
Yah udahlah daripada gue cuma marah-marah nggak jelas kayak gini mendingan gue mandi, abis itu segar, abis itu makan pagi, abis itu kenyang, abis itu nonton tv, abis itu bobo lagi {ha ha ha ha ha ha ha}. Nggak deng.
Yah udah ya, gue mandi dulu.
Tapi jangan kemana-mana, tongkrongin gue aja seharian ini.
Ikutin aktivitas gue seharian ini. Ngikutin kegiatan gue interview sama People Magazine, nongkrong bareng , seru-seruan and ngobrol.
Okay?

    Interview With People Magazine {Sydney, Australia}.

Udah nyampe nih, di kantor People.
Cepat banget nyampenya, nggak ada sejam.
Gini nih, klo nggak di Jakarta loe stay, kemana-mana cepat, bentar aja udah nyampe.
Nggak kayak di Jakarta masa ke Mall Kelapa Gading dari rumah gue 1 jam lebih, itupun klo nggak macet, parah!!
“Hei…., Zikei?”
* “Hei…., man? How u doin, dude?”
Itu tadi, Winston. Dia yang bakal nge-interview gue.
Tapi sebelum gue mulai di-introgasi sama dia, gue take a picture dulu a.k.a photo shoot.
“Ha ha ha ha ha ha ha…., {Winston}.
* “What? There something wrong in my face?”
  • “So Zikei…., how are you?”
*  ”I’m good, thanks.
So how you doin, man? Okay? No? Why not?
Ck…ck…ck…, kasihan sekali.
Ha ha ha ha ha…., joking.”
  • “{Ha ha ha ha ha} Ada cerita baru yang mau kamu ceritakan ke penggemar kamu Zi, sebelum kita mulai?”
*  ”Ada nggak ya? Hm…hm…hm…., ada sih actually.
Cuma ceritanya sedikit memalukan, so gue nggak ngerti deh ini kejadian lucu atau kejadian memalukan sebenarnya. Mendingan nggak usah gue ceritain deh. Gue malu, bisa-bisa klo gue ceritain gue sendiri yang mupengk.
  • “Memang ada kejadian apa sampai kamu dibuat malu sama kejadian itu? Bisa diceritakan kepada People?”
*  ”Gimana ya?”
Hahhh hhh hhh…, malunya.
“Ini tentang anjing poodle gue si Jenny. Jenny had fluffy white hair. I loved her so much. I always walked her in my neighborhood park. When I came from college one afternoon, I saw her running after a butterfly in one of my neighbor’s  garden. I opened my neighbor’s fence, walked into the garden and called her name.
The dog ran to me. I picked her up and carried her out of garden. Suddenly a woman shouted from inside the house. “Dog kidnapper!”
Then she ran after me shouting, “Somebody, please catch that girl!” Luckily I had enough sense not to run away. Instead, I stood still and tried to explain the situation to her.
People started to crowd round us. My explanation seemed to fall on deaf ears. The woman tried to snatch Jenny away from me. During the commotion, I heard my auntie shouting my name from among the crowd.
“Zikei…., is that you?”
My aunt finally managed to push herself to the front and face my upset neighbor, and said, “I’m so sorry ma’am. My niece made a mistake. Please forgive her?”
And then she turned to the crowd, explaining, “My niece kept a poodle just like this one at home.”
And finally she looked at me and sternly said, “Jenny’s at home snoring!”
I turned red with embarrassment as my auntie led me out of the crowd.”
  • “Ha…ha…ha…ha…. {Winston}. That’s really funny, don’t you think?”
*  ”Yeaaahhhh?
Do not laugh, please?”

Hanging out with People Magazine this time ended.
Then, after interview we {me, my staf, manager and people magazine crue} went to  restaurant for dinner.
elang-manggang-roti

25 March 2011

Aku Khawatir Harapan Tiada Seindah Kenyataan.  
Author: Siahaan Zka

Posted in My Own Stories. | |

Maryland, Selasa 08 Desember 2007.

Pukul 21:15.

  • Dear: DIARY?

anak2-kecil-cewek2-main-skate-fans

“Dulu kita selalu senang tidak pernah susah atau merasa sedih, karena…., karena waktu itu kita masih anak kecil. Setelah dewasa semua berubah. Kini terasa betul oleh kita, pahit — getir, hidup di dunia ini. Sungguh, betapa waktu cepat sekali berputar, mengubah segala yang ada, hingga peristiwa-peristiwa indah tidak lagi pernah terjadi di masa-masa kita dewasa sekarang.”


Kami terdiam, diam yang panjang. Kemudian dengan suara yang dalam hatiku mencoba menasehati. Dan seperti yang lalu-lalu, nasihat-nasihat itu sebetulnya ditujukan untuk diriku sendiri.


Kekalahan ini, kekalahan yang sudah berani menamparku hingga membuatku jatuh terjerembab, luka dan tak sadarkan diri. Jujur tidak sudi aku mengundangnya ada di dalam hidupku. Seberkas masa lalu yang pahit bahkan terlalu amat pahit walaupun hanya sepenggal kisah lama. Dan masih sangat pahit jika dibandingkan dengan kopi pahit yang hitam pekat.

Kenangan-kenangan dari masa lampau tidak ada dan dari masa depan yang masih akan datangpun tidak ada, tidak ada kenangan pada mereka yang hidup sesudahnya. Tetapi mungkinkah semua khayalan itu dapat menjadi kenyataan?

Sudah berapa banyakkah khayal dan harap disemaikan? Namun akhirnya hanya menimbulkan kekecewaan, mengobati luka dengan menoreh luka baru.

AKU KHAWATIR HARAPAN TIADA SEINDAH KENYATAAN……

Apa yang dapat dilakukan hati yang terbakar oleh KESEDIHAN, selain meratap dan menangis?

Dan apakah yang bisa dipersembahkan kepadaku selain jeritan kepedihan?

Kesedihan bagaikan debu di kakiku sendiri, sedang air mataku bagai cahaya surga bagimu. Meskipun aku tinggal di dalam cahaya, di dalam keramaian ciptaan langit namun hari-hari tidak lebih hanya seperti kegelapan.

Lalu aku berkata, “Datanglah wahai sunyi sepi nan indah? Mendekatlah padaku dan lepaskanlah ikatan kehidupan ini daripadaku. Sebab aku begitu lelah menyeretnya.

Datanglah, wahai sunyi sepi nan manis dan bawa aku dari keramaian yang meninggalkanku dalam sudut gelap terlupakan. Sebab harapan selalu menyakiti aku.”

“Sebagaimana Keyakinan Selalu Membiarkan Aku Sendirian!”


“AKU……., HANCUR!”  
Author: Siahaan Zka

Posted in Feel | |

Indiana, Rabu 01 Desember 2007.

Pukul 15:45.

  • Dear: DIARY?

clasic-portrait-window

Dulu aku sangat yakin dengan prinsip serta angan-angan yang menghiasi mimpi-mimpi, namun ketika badai dan gelombang datang menamparku, sedetik itu pula aku mampu kehilangan pendirian.


Kemana perginya seluruh harapan, sesuatu yang aku percaya akan terwujud?

Bahkan sesaat lalu aku sudah bisa berdiri dengan kuat, sanggup melangkah dengan penuh harap — yakin, dengan semua yang telah kuucapkan sebelum akhirnya keputusasaan mendatangiku.

Aku berteriak….., pedih rasanya.

Aku kehilangan arah!

Tidak ada lagi yang tersisa yang sanggup membuatku berdiri.

AKU HANCUR!

Rasanya berat untukku kembali berjalan, melupakan semuanya dan memulai dari awal.

Inikah cinta?

Sudah berapa lama ini terjadi?

Aku tidak lagi mengenali sosokku ini banyak yang telah berubah, adakah cinta yang membuatku begini?

Ha…ah…ah…ah…ah…., apa yang sudah kulakukan?

————————————————————————————————-

Bisakah kau memahami keadaanku dan turut masuk kekehidupanku yang panjang, suram dan melelahkan ini?

Mencoba mengenalku lebih jauh, ikut dan merasakan pada semua yang sudah, sedang dan akan kulewati.

Adakah sesuatu dari kisahku yang menyentuh hatimu? Hingga merubah penilaianmu terhadapku dan semakin hari semakin tahu — mengerti, bahwa aku………..,

SEDIH.

————————————————————————————————-

Aku sudah bosan dengan air mata ini, berpura-pura tidak terjadi apa-apa, tapi AKU TERLUKA!

Dengan tenagaku sendiri, untuk diriku sendiri, kuputuskan….., membangun kembali harapanku yang baru. Aku bersumpah, aku akan menjadi sama seperti pulau terpencil di tengah-tengah samudera, yang dapat menyelamatkan dirinya sendiri.

Dan bila aku terjatuh, aku jatuh dengan tidak BERTERIAK.


24 March 2011

“Ungu, Merah Muda & Biru Laut.”  
Author: Siahaan Zka

Posted in Flowers | |

Loisiana, Minggu 26 November 2007.

Pukul 17 : 35.

  • Dear : DIARY?

Kusulam jalinan kasih ini menggunakan hati perih, bagai tertusuk duri, menancap sampai ke daging.

Kusulam lembaran-lembaran nuansa indah sebentuk perasaan berwarna ungu, merah muda dan biru laut dengan bergelas-gelas air mata dan berlusin-lusin kesakitan yang bertengger dirambutku.

Dari mana datangnya duka lara ini? Membelah kota dan menjungkirbalikkan semangat.

Buih dan arus air membasuh kotoran di mukaku. Dari antara gulungan benang, cinta di hati bagaikan benang kusut yang tak dapat diurai kembali.

Tiap hari aku berusaha untuk terus menyulam rangkaian keindahan ini, agar menjadi rakit dan jembatan yang kokoh.

Kunyalakan pemanas air, terpampang potongan-potongan gambarnya bergelantungan bebas di rambutku.

Malam semakin larut, jauh ke pusat malam menuju pagi. Tubuhmu semakin hari semakin kurus karena lelah bekerja dan terlalu banyak yang dipikirkan. Bak embun menyambut cahaya pagi, mengilhami kembang untuk menebarkan keharuman musim semi.

Kusulam benih-benih rindu menggunakan bergulung-gulung tali — diikat erat, agar tidak lepas.

Akulah wanita muda yang sedang berada dalam musim semi kehidupanku — MUSIM HUJAN, begitu istilah yang kuberikan untuk menggambarkan betapa kacau dan berantakannya hidupku.

————————————————————————————————-

Aku tahu, saat pembebasan dari belenggu kehidupan yang tidak lagi normal ini masih sangat jauh.

Dan sekali lagi aku tertegun.
Aku sudah tidak ingin meneruskan kata-kataku tadi. Hanya akan membuatku bingung.
Semakin aku berpikir, semakin aku tidak mengerti.
Semakin aku berlari — semakin jauh aku….., “tersesat”.
Aku sudah muak pada SANDIWARA ini! Hanya membuatku SUSAH!
“Sudah cukup! Ini sudah lebih dari cukup! Aku muak….., padamu!”
————————————————————————————————-

Aku sedang menanti kehadiran keputusasaan dengan penuh minat dan pada roman mukaku yang pucat tidak terlihat sedikitpun cahaya harapan. Namun seulas senyum serta sepenggal kata maaf dari sorot mataku, masih sering keluar dari ekspresi wajah yang tak lagi bercahaya.

“Lepaskan!

Lepaskan Aku!”

brantem-antar-laki2


“Tapi Kenapa Seperti Ini?”  
Author: Siahaan Zka

Florida, Selasa 21 November 2007.

Pukul 14:30.

  • Dear : DIARY?

gedung-di-malam-hari1

Manusia cepat-cepat meninggalkan jalan dan aktivitasnya masing-masing menuju rumah mereka demi sebuah kehangatan, tatkala angin utara datang menghembuskan udara malam yang dingin membeku, ketika kegelapan sayap malam muncul melingkupi dan pagi segera hadir menjelang. Di mana embun telah menebarkan pakaian putihnya yang murni seputih salju.

Di tepi kota itu berdirilah aku  seorang diri, wanita rapuh. Seorang wanita muda yang sekarat dan hampir rubuh, menatap cahaya redup dari lampu minyak — berkelip, akibat angin yang berhembus.

Rinduku padanya bagaikan perjalanan mencekam, seperti lajunya sebuah kereta yang memasuki kota demi kota, yang mana lajunya tak pernah bisa dihentikan.

Mengapa jantungku terasa bergetar dan dadaku terasa ringkih? Inikah perasaan cinta itu?

Tapi ketika aku telah memilih salah seorang pria dari sekian ribu pria di dunia ini — memilihnya, untuk menempati ruang kosong di hatiku, mengapa aku hanya bisa MARAH?

“Aku tidak bisa memahaminya!”

Aku tidak meminta dan menghendaki semua ini terjadi padaku, tapi mengapa begini?

Inikah cinta itu?

Tapi Kenapa Seperti Ini?

“Aku mau mundur!” Jeritku, tapi badan tak bisa digerakkan. Kakiku mati rasa, seperti ada yang memakunya sampai ke tanah — tertancap erat, dibiarkannya aku lemas akibat kelelahan berdiri.

“Lalu hidup di mana?” Ia hanya terus berjalan tanpa berhenti sedetikpun.

“Melanjutkan cerita kehidupan yang telah digariskan untuk diselesaikan, apa tidak salah!” Ejekku. Sayang, kumemilih mundur. Cuma ingin menerimanya saja tidak dengan perlawanan.

Oh…., aku tak sudi melakukan sesuatu terhadap hal yang tidak kuketahui. Kupilih……., PERGI!

“Bodoh!”

“Memang, aku memang bodoh. Menyerah — itu dia.”

Lepaskan! Biarkan aku menuruti panggilan hati yang mengajakku untuk pergi.

Lepaskan! Biarkan aku mengikuti suara-suara yang memohon padaku, “Hei….., beranjaklah!”

Masih sanggupkah aku memberinya cinta?

Semoga kau tak marah sebab aroma cintaku tidak abadi.

gedung-di-malam-hari

“Dunia ini memang aneh,” kataku.

“Kalau satu masalah yang timbul bisa diatasi, nanti setelahnya pasti akan datang masalah baru. Secepat kilat! Tanpa sedikit pun memberi jeda yang panjang untuk mengistirahatkan hati. Ada-ada saja siasatnya! Mereka punya seribu macam cara, seratus bahan untuk memaki dan menghina-hina di belakang layar. Nanti jika ada seseorang yang runtuh akibat ulahnya, ramai-ramai pulalah mereka ikut menyoraki dan turut meruntuhkannya lebih jauh.”

Kuhapus air mata yang jatuh dari pelupuk mataku cepat-cepat, “Ya…, dunia ini memang aneh!” Kataku lagi.




22 March 2011

“Menunggu Rasa Sayang Itu?”  
Author: Siahaan Zka

Posted in H.O.P.E No More | |

Michigan, Sabtu 9 November 2007.

Pukul 12:30.

  • Dear: DIARY!

Bulan meluruhkan selubung kabut di atas taman-taman Kota Matahari dan kesunyian menyapu semua keriangan dan kabahagiaan yang baru saja terjadi.

halloween

Aku tidak punya rasa sayang itu lagi, hanya punya ini. Aku ingin membelinya satu, menikmati lagi rasa indah berbunga-bunga yang dulu pernah menghinggapiku, namun tidak ada.

Sebab rasa sayang itu dibuat pada tahun 2008. Sedangkan aku hanya ingin membeli rasa sayang yang dibuat pada tahun 2006.

Sebuah toko memajangnya di sebuah etalase tinggi, tapi malang…., ia tidak di jual. Kenapa begitu?

Karena kuncinya hilang, jadi tidak bisa dibuka. Salah satu kakinya timpang, makanya tidak mungkin berdiri kokoh. Kacanya kotor sekali, hingga tak terlihat lagi isinya di dalam.

Aku penasaran jadi kuintip saja ke dalam, melihat ke salah satu lubang, ternyata — kosong. Tak kutemukan apa-apa.

Rasa Sayang Itu Tidak Dijual!

Tapi aku harus memilikinya satu, kalau tidak dia benar-benar lepas dari hatiku. Jika tidak cintaku benar-benar berkarat, ditumbuhi ilalang, akhirnya lumutan.

Mengapa dia tidak kunjung datang?

Hatiku sudah berbau dan berlubang.

Lubang bagaikan kalimat menyerah pada suatu bahasa, putusasa bagaikan perang yang tak berujung.

Aku menunggu rasa sayang itu, malang — ia tak kunjung datang.

Menunggu agar karat dan lubang hitam di dalam sini, tak lagi berbau.

————————————————————————————————-

“Manusia bercerita tentang kesunyian yang menyapu kejadian dan meninggalkan luka yang dalam.”

Manusia bercerita mengenai pecundang, melihatnya sebagai ancaman. Melihatnya bagaikan sesosok monster yang siap dihancurkan, “Apakah dia seorang yang bijak? Tidak dapatkah ia melihat bahwa bagaimana pun juga ini bukan hal yang sepele.”

Malaikat pun turut bicara, “Apa kau tidak tahu? Jika hal sepele adalah KEBIJAKSANAANNYA!”




21 February 2011

Sekuncup Bunga Matahari……?  
Author: Siahaan Zka

Posted in My Heart | |

Montreal, Rabu 30 Oktober 2007.

Pukul 09:05.

  • Dear: DIARY!

bunga-matahari

Aku segera beranjak ingin cepat-cepat berlari dari balik mimpi buruk ini, demi mencuri segenggam ketentraman dan rasa aman yang telah melempar sang perak ke dasar laut.

Kuperhatikan sang perak terus menjauh tersapu arus ombak, langsung menuju kilau keemasan samudera lalu menghilang dari pandangan mataku.
Selama ini aku telah salah, terlalu menuruti kemauannya. Aku puaskan dahaganya dan tenggelamkan hatinya, akhirnya dia begini, terlalu manja dan selalu saja membuatku susah.
Ia lembutkan suaranya dan menenangkan amarahku, tapi aku tidak juga bisa tenang, “bagaimana ini?”
Kala fajar, kubisikkan kata-kata cinta ditelinganya dan dia memelukku penuh hasrat.
“Menjauh! Kau menjengkelkan!” Teriakku.
“PERGI SANA!”
Ya ampun! Aku tahu besok itu lusa, iya aku tahu setiap malam yang kulalui hatiku selalu saja menjerit hingga menyentuh langit-langit rumahku, sampai-sampai tempat tidurku basah kuyup akibat air yang terus meleleh di pipiku dan mataku jadi merah karenanya.


Sekuncup bunga matahari terbuka menebarkan aromanya yang khas, indah sekali warnanya saat sinar matahari pagi jatuh menimpanya.


“Peduli apa, jika bunga matahari maupun bunga mawar terlihat indah dan harum, sedangkan hubungan asmaraku tidak!”
Tak bisa kusalahkan siapa-siapa bila ternyata hati hanya bisa bersedih sepanjang perjalanan cinta yang kulalui bersamanya.
Aku juga tak bisa menyalahkan cintanya karena telah membelenggu dan memberi pakaian duri padaku. Mencekik dan menghadiahkan penderitaan padaku, bukan kebahagiaan seperti yang aku mau.
“Lepaskan aku!
AKU TIDAK MAU KEMBALI!


Kembali datang penyesalan dalam diriku mengapa kalimat tadi kuucapkan. Dan sejak hari itu, tidak ada waktu yang tidak kugunakan untuk memikirkannya.
Pikiran-pikiran tentang dirinya selalu singgah dan menghantuiku setiap saat.
Dalam seminggu sesudah itu…., nafsu makanku berkurang. Kesehatanku pun semakin hari semakin mundur.


24 January 2011

“Aku Mungkin Lelah, Tapi Nanti Semua Ini Pasti Berakhir.”  
Author: Siahaan Zka

Posted in Story | |

Philadelphia, Sabtu 20 Oktober 2007.

Pukul 23:00.

  • Dear: DIARY!


    Aku menyanyikan sebuah lagu harapan dan memberikan ciuman lembut pada wajahnya, namun ia tak juga tenang.

    Sering ia mengeluh dan aku pastilah orang pertama yang mendengar kekasihku mengeluh. Keluhannya tidak jauh-jauh tentang masalah hatinya, akan kelemahannya dan bagaimana dia selalu saja cemas.

    Aku membantunya menenangkan diri, namun ia tak juga tenang. Sering aku menggodanya tapi tak jua kudapatkan tawanya, malah sebaliknya aku yang tertawa hingga terpingkal-pingkal dan dengan senyum kubercerita banyak hal yang menarik, namun ia tak juga tertawa.

    Lalu kumembawanya ke sebuah pantai yang indah, di sana kuberusaha menghibur jiwanya yang tenggelam dan membelai lembut kepalanya, “Aku tidak dapat memberimu kekuatan bila ada seseorang yang mengambil milikmu.”

    Aku bisa mencuri sebuah batu dari dalam laut dan memberikannya padamu, memberikannya dalam diam. Tapi tetap aku tidak bisa berbuat apa-apa, bila ada seseorang yang mengambil milikmu.

    Ketika aku terjaga dikeheningan malam, saat semua makhluk tertidur pulas — kumemikirkan sesuatu, betapa cinta telah melemahkanku namun secara sadar aku telah menjalaninya selama kurun waktu yang sangat panjang.

    Terjaga, bernyanyi, bermimpi — bergantian, aku terbangun.

    “Aku Mungkin Lelah, Tapi Nanti Semua Ini Pasti Berakhir.”




    25 October 2010

    Hatiku Tidak Akan Bisa Menceritakannya  
    Author: Siahaan Zka

    Posted in BETE! | |

    South Carolina, 11 Oktober 2007.

    Pukul 12:45.

    • Dear: diary

    Barangkali karena banyak sudah aku melihat keanehan-keanehan di duniaku setiap harinya. Dan barangkali juga karena telah empat - lima kali turut andil mengalami kejadian, yah…, kalau dipikir-pikir lagi itu mungkin beberapa kejadian dari sekian banyak peristiwa yang hampir-hampir jarang dialami oleh sebagian besar orang. Kecuali jika seseorang itu memang sedang sial atau tidak sedang beruntung.

    Dengan langkah yang berat pergilah aku meninggalkan rumah kecil itu — rumah, yang tepatnya…, tempat orang yang tak bebas mempergunakan hidupnya sendiri dengan baik.

    titik2-air

    Hatiku tidak akan bisa menceritakannya, menceritakan sepenggal kisah sedih padamu untuk kau ketahui, sekalipun kepada orang yang merasa kasihan padaku, jika selama ini kau tidak pernah merasakan rasa sakit yang sangat menusuk.

    Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan parahnya bertahun-tahun rasa sakit pelan-pelan menyiksamu. Kau lupa, waras ataukah kau sudah……!

    Tiba-tiba mampu aku pahami seluruh peristiwa yang pernah datang — bertandang, di alam renunganku bahkan yang paling buruk sekalipun. Namun tetap tak bisa kumengerti.

    Tiba-tiba saja aku jatuh cinta padanya, melebihi cintaku pada yang lain akhirnya menyakiti dadaku sendiri. Namun ketika ada sesuatu yang ingin kukatakan, mulut tak lagi memiliki suara.

    Udara di luar rumah dipenuhi sulur-sulur. Mimpi-mimpi buruk yang lihai menjalar — bergegas menjerat tubuhku, mencuri harapanku yang sisa segenggam.

    Di pagi hari, belama-lamalah meratap. Lemparkan dirimu sejauh mungkin dari angan-angan kosong dan tidurlah hingga kau malas untuk bangun lagi.

    Pikiranku membicarakan tentang dirinya, berita yang membuatku muntah. Lalu mereka hanya bisa berlalu.

    Sungguh ini pedih, tapi lucu.

    Lalu aku tertawa.

    Aku tak pernah bisa melakukannya, membuangnya dari otakku.

    “Apapun yang terjadi, menangislah?” Karena sebuah air mata hadiah dari Yang Maha Kuasa.



    Next Page »